30 Mei 2026

Ujian Sekolah Berbasis Proyek SMA Negeri 2 Pineleng

Kibarnusantara || Minahasa – Pelaksanaan Ujian Untuk Sekolah Menengah Atas hingga saat ini sudah memasuki gelombang terakhir,saat kunjungan awak media kibar nusantara ke sekolah SMA Negeri 2 Pineleng Kamis (16/04/2026), ada hal yang baru terkait Ujian tersebut yaitu Ujian Sekolah Berbasis Proyek.

 

Ujian dengan metode ini adalah pertama kali dilaksanakan oleh SMA Negeri 2 Pineleng untuk kelas 12, dimana para peserta ujian membentuk kelompok, dalam satu kelompok terdiri dari 3 sampai 4 siswa dengan guru pembimbing, peserta harus membuat suatu proyek berupa produk yang diolah menjadi hasil karya yang nantinya bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tiap peserta ujian akan mempresentasikan secara langsung bagaimana proses pembuatan hasil karya yang mereka buat dihadapan guru penguji.

 

Beberapa hasil karya yang buat yaitu, Sabun Mandi, tempe, lilin aroma terapi. semua hasil karya dibuat memiliki kualitas seperti produk pada umumnya.

 

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Pineleng ibu Jein S.Mokolinug,S.Th.Gr saat wawancara di ruangan kerjanya, Kepsek mengungkapkan bahwa ujian sekolah kali ini berbasis proyek.

 

” Ujian sekolah berbasis proyek ini perdana di sekolah SMA Negeri 2 Pineleng, dengan jumlah siswa kelas 12 sebanyak 27 orang, dalam satu hari ujian dibagi dalam 2 kelompok” Ungkapnya.

 

Kepsek menjelaskan, sebelum pelaksanaan ujian berbasis proyek, para siswa membuat hasil karya melalui langkah-langkah pembuatan dengan pengawasan dari guru pembimbing di masing-masing kelompok.

 

” Namanya juga kegiatan ujian berbasis proyek, jadi memang dikerjakan dari jangka waktu yang lama, seperti tadi salah satu produk yang ditampilkan di sesi pertama ujian ada produk aroma terapi berbasis minyak jelanta, ada juga produk sabun batang, saya melihat anak-anak didik SMA Negeri 2 ini mampu untuk berinovasi ” Jelasnya.

 

Ujian sekolah berbasis proyek memang dilatih supaya siswa berpikir kritis serta kolaborasi komunikasi bagaimana cara menyelesaikan proyek yang dihadapi, dan inilah yang disebut dengan pembelajaran secara nyata.

 

“Ini menjadi bekal pengalaman pembelajaran secara nyata, kedepan para siswa nantinya bisa memanfaatkan pengalaman ini untuk membuat produk yang dapat bermanfaat dan menghasilkan” Tutupnya.

(Riandy)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *