30 Mei 2026

Pemuda Lintas Agama, Garda Kerukunan dan Ekoteologi di Era Digital

Manado || Kibarnusantara – Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, menegaskan peran strategis pemuda lintas agama sebagai penjaga kerukunan dan penggerak ekoteologi di era digital. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pemberdayaan Lembaga Kepemudaan Lintas Agama yang berlangsung di Hotel Sentra Manado pada 21–23 April 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Pemuda Lintas Agama sebagai Penjaga Kerukunan dan Ekoteologi di Era Digital” ini diselenggarakan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kemenag RI dan diikuti sekitar 100 pemuda dan pemudi lintas agama se-Sulawesi Utara.

 

Dalam arahannya, Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa kehadiran pemuda lintas agama menjadi tanda optimisme bagi masa depan kerukunan di Indonesia.

“Kehadiran saudara-saudara sekalian menunjukkan bahwa kita memiliki semangat dan misi bersama untuk membangun Sulawesi Utara secara khusus dan Indonesia secara umum,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan kepada kebaikan.

“Tidak ada manusia yang pada hakikatnya jahat. Semua memiliki potensi untuk saling menghormati, menghargai, dan mencintai sesama,” tegasnya.

Menurutnya, dalam perspektif filsafat dan keagamaan, manusia memiliki dimensi kemanusiaan (nasut) dan dimensi ketuhanan (lahut) yang mendorong pada nilai-nilai kebaikan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa nilai-nilai tersebut kerap tertutupi oleh dinamika sosial dan arus informasi di era digital.

“Di tengah dunia tanpa batas saat ini, kita harus memperkuat interaksi positif dan dialog konstruktif agar nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama kehidupan bersama,” tambahnya.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis memperkuat moderasi beragama berbasis generasi muda.

“Pemuda lintas agama adalah agen perubahan. Mereka tidak hanya menjaga kerukunan, tetapi juga menjadi pelopor kesadaran ekoteologi sebagai bentuk tanggung jawab iman terhadap lingkungan hidup,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Ulyas Taha, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini di Sulawesi Utara yang dikenal sebagai daerah dengan tingkat kerukunan yang tinggi.

“Kami bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan menjadikan Sulawesi Utara sebagai lokasi kegiatan nasional ini. Ini menjadi penguatan nyata bagi praktik kerukunan yang sudah terbangun dengan baik di daerah kami,” ujar Ulyas.

Ia juga berharap para peserta dapat menjadi duta kerukunan di komunitas masing-masing.

“Pemuda lintas agama harus tampil sebagai pelopor perdamaian, penebar nilai toleransi, dan penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk,” tambahnya.

Kegiatan ini diisi dengan sesi pembinaan, dialog lintas iman, serta penguatan kapasitas kepemudaan dalam merespons isu-isu keagamaan dan lingkungan di era digital.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama RI berharap lahir generasi muda lintas agama yang tidak hanya toleran, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari praksis keagamaan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis, inklusif, dan penuh semangat kebersamaan, mencerminkan wajah kerukunan Indonesia yang terus dirawat oleh generasi muda lintas iman.

Hadir juga dalam kegiatan ini, Kapus KUB Kemenag RI Gus Adib, Kakanwil Kemenag Sulut H. Ulyas Taha, Rektor IAKN Olivia C. Wuwung, Kabid Bina Lembaga Kerukunan dan Lembaga Keagamaan pada PKUB Kemenag RI, pejabat administrator di lingkungan Kemenag Sulut dan Panitia Pelaksana.

(**)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *